Berawal dari rasa keingintahuan saya mengenai perbedaan sholat Jama, Sholat Qasar, Sholat Qodo' dan tata cara dalam pelaksanaannya, berikut tulisan yang saya dapat dari salah satu sumber yang mungkin bisa menambah pengetahuan antum sekalian, Semoga bermanfaat...
Shalat Jama, Shalat Qasar, Shalat Qodo
Salat jama' adalah salat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan dua salat fardu yang dilaksanakan pada satu waktu.
Shalat fardu dalam sehari semalam yang boleh dijamak adalah pasangan shalat dzuhur dengan ashar dan shalat maghrib dengan ‘isya. Sedangkan shalat subuh tidak boleh dijama'. Demikian pula orang tidak boleh menjama' shalat ashar dengan maghrib.
Shalat Jama' boleh dilaksanakan karna beberapa alasan halangan berikut :
- Dalam perjalanan jauh minimal 81 km (menurut kesepakatan sebagian besar imam madhab)
- Perjalanan itu tidak bertujuan untuk maksiat.
- Dalam keadaan sangat ketakukan atau khawatir misalnya perang, sakit, hujan lebat, angin topan dan bencana alam.
Shalat Jama' dapat dilaksanakan dengan dua cara :
- Jama' Takdim (jamak yang didahulukan), yakni menjama' dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang pertama. Misalnya menjama' shalat dzuhur dengan ashar, dikerjakan pada waktu duhur (4 rakaat salat duhur dan 4 rakaat shalat asar) atau menjama' shalat magrib dengan ‘isya dilaksanakan pada waktu magrib (3 rakaat shalat magrib dan 4 rakaat shalat ‘isya).
- Jama' Ta’khir (jama' yang diakhirkan), yakni menjama' dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang kedua. Misalnya menjama' shalat dzuhur dengan ashar, dikerjakan pada waktu ashar atau menjama' shalat maghrib dengan ‘isya dilaksanakan pada waktu ‘isya.
Harap diingat:
- Saat melaksanakan shalat jama' takdim maka harus berniat menjama' shalat kedua pada waktu yang pertama, mendahulukan shalat pertama dan dilaksanakan berurutan, tidak diselingi perbuatan atau perkataan lain.
- Saat melaksanakan jama' ta’khir maka harus berniat menjama' dan berurutan. Tidak disyaratkan harus mendahulukan shalat pertama. Boleh mendahulukan shalat pertama baru melakukan shalat kedua atau sebaliknya.
Cara Melaksanakan Shalat Jama' Takdim
Misalnya shalat dzuhur dengan ashar : shalat duhur dahulu empat rakaat kemudian shalat ashar empat rakaat, dilaksanakan pada waktu dzuhur. Tata caranya sebagai berikut:
1) Berniat shalat dzuhur dengan jama' takdim. Bila dilafalkan yaitu:
اُصَلِّى فَرْضَ الظُهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَقْدِيْمًا مَعَ العَصْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالى
2) Takbiratul ihram. Shalat Dhuhur empat rakaat - Salam
3) Berdiri lagi dan berniat shalat yang kedua (ashar), jika dilafalkan sebagai berikut:
اُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَقْدِيْمًا مَعَ الظُهْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالى
4) Takbiratul Ihram. Shalat Ashar empat rakaat - Salam
Cara Melaksanakan Shalat Jama' Ta’khir.
Misalnya shalat maghrib dengan ‘isya: boleh shalat magrib dulu tiga rakaat kemudian salat ‘isya empat rakaat, dilaksanakan pada waktu ‘isya. Tata caranya sebagai berikut:
1) Berniat menjamak shalat magrib dengan jama' ta’khir.
اُصَلِى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَأخِيْرًا مَعَ العِشَاءِ فَرْضًا للهِ تََعَالَى
2) Takbiratul ihram. Shalat Maghrib tiga rakaat - Salam
3) Berdiri lagi dan berniat shalat yang kedua (‘isya), jika dilafalkan sebagai berikut;
اُصَلّى فَرْضَ العِسَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَأخِيْرًا مَعَ المَغْرِبِ فَرْضًا للهِ تََعَالَى
4) Takbiratul Ihram. Shalat Isya empat rakaat - Salam
Catatan: Setelah salam pada shalat yang pertama harus langsung berdiri, tidak boleh diselingi perbuatan atau perkataan misalnya zikir, berdo’a, bercakap-cakap dan lain-lain.
Shalat Qasar
Shalat Qasar adalah shalat yang dipendekkan (diringkas), yaitu melakukan shalat fardu dengan cara meringkas dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat fardu yang boleh diringkas adalah shalat yang jumlah rakaatnya ada empat yaitu dhuhur, ashar, dan ‘isya.
Cara Melaksanakan Shalat Qasar Dhuhur
(1) Berniat salat dengan cara qasar.
اُصَلّى فَرْضَ الظُهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا للهِ تَعَالى
Artinya: “ saya berniat shalat dzuhur dua rakaat diqasar karena Alla Ta’ala”
(2) Takbiratul ihrom. Shalat dua rakaat Salam.
Shalat Jama' Qasar
Pengertian Shalat Jama Qasar adalah menggabungkan dua shalat fardu dalam satu waktu sekaligus meringkas (qasar). Hukum dan syaratnya sama dengan shalat jamak dan shalat qasar. Shalat Jama Qasar dapat dilaksanakan secara takdim maupun ta’khir.
Cara Melaksanakan Shalat Jama' Qasar
Misalnya Shalatt Jama' Qasar menggunakan Jama' Takdim dzuhur dengan ashar:
(1) Berniat menjamak qasar shalat duhur dengan jamak takdim.
اُصَلّى فَرْضَ الظُهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ العَصْرُ جَمْعَ تَقْدِيْمًا للهِ تَعَالَى
“ Saya berniat shalat dzuhur dua rakaat digabungkan dengan shalat asar dengan jamak takdim, diqasar karena Allah Ta’ala”
(2) Takbiratul ihram. Shalat duhur dua rakaat (diringkas) Salam.
(3) Berdiri dan niat shalat ashar, jika dilafalkan sebagai berikut:
اُصَلّى فَرْضَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَِى الظُهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمًا للهِ تَعَالَى
(4) Takbiratul ihram. shalat asar dua rakaat (diringkas) Salam
2. Jama Ta'khir
Misalnya Shalat Jamak Qasar menggunakan Jamak Ta’khir shalat Magrib dengan ‘Isya:
(1) Berniat menjamak qasar salat magrib denganjamak ta’khir.
اُصَلّى فَرْضَ المغرب ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا اِلَى العِشَاءِ جَمْعَ تَاْخِيْرًا للهِ تَعَالَى
(2) Takbiratul ihram. Shalat magrib tiga rakaat seperti biasa. Salam.
(3) Berdiri dan niat shalat isya’. Jika dilafalkan sebagai berikut :
اُصَلّى فَرْضَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ المَغْرِبُ جَمْعَ تَاْخِيْرًا للهِ تَعَالَى
“ Saya berniat shalat isya’ dua rakaat digabungkan dengan shalat magrib dengan jamak ta’khir, diqasar karena Allah Ta’ala.”
(4) Takbiratul Ihram. Salat isya’ dua rakaat (diringkas) اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Shalat Qodo
Uraikan ketentuan-ketentuan hukum dan cara mengqodho’ sholat :
1. Kewajiban mengqodho’ sholat yang ditinggalkan.
Orang yang wajib
mengerjakan sholat, kemudian ia tidak mengerjakannya sampai waktunya
habis, maka ia diwajibkan mengqodho’ sholat yang ia tinggalkan,
berdasarkan sabda Nabi
مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ
“Barang siapa yang lupa
mengerjakan sholat, maka hendaklah ia melaksanakannya jika telah
mengingatnya, tidak ada tebusan baginya kecuali itu.” (Shohih Bukhori,
no.597 dan Shohih Muslim, no.684)
2. Bergegas mengqodho’ sholat.
Dan diperbolehkan
mengakhirkan qodho’ sholat yang ditinggalkan, apabila sholat tersebut
ditinggalakan karena ada udzur, seperti ketiduran. Ketentuan ini
didasarkan pada hadits nabi:
عَنْ عِمْرَانَ،
قَالَ: كُنَّا فِي سَفَرٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَإِنَّا أَسْرَيْنَا حَتَّى كُنَّا فِي آخِرِ اللَّيْلِ،
وَقَعْنَا وَقْعَةً، وَلاَ وَقْعَةَ أَحْلَى عِنْدَ المُسَافِرِ مِنْهَا،
فَمَا أَيْقَظَنَا إِلَّا حَرُّ الشَّمْسِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَنِ
اسْتَيْقَظَ فُلاَنٌ، ثُمَّ فُلاَنٌ، ثُمَّ فُلاَنٌ – يُسَمِّيهِمْ أَبُو
رَجَاءٍ فَنَسِيَ عَوْفٌ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ الرَّابِعُ –
وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَامَ لَمْ
يُوقَظْ حَتَّى يَكُونَ هُوَ يَسْتَيْقِظُ، لِأَنَّا لاَ نَدْرِي مَا
يَحْدُثُ لَهُ فِي نَوْمِهِ، فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ عُمَرُ وَرَأَى مَا
أَصَابَ النَّاسَ وَكَانَ رَجُلًا جَلِيدًا، فَكَبَّرَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ
بِالتَّكْبِيرِ، فَمَا زَالَ يُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ
حَتَّى اسْتَيْقَظَ بِصَوْتِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ شَكَوْا إِلَيْهِ الَّذِي أَصَابَهُمْ،
قَالَ: «لاَ ضَيْرَ – أَوْ لاَ يَضِيرُ – ارْتَحِلُوا»، فَارْتَحَلَ،
فَسَارَ غَيْرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ نَزَلَ فَدَعَا بِالوَضُوءِ، فَتَوَضَّأَ،
وَنُودِيَ بِالصَّلاَةِ، فَصَلَّى بِالنَّاسِ
“Dari ‘Imron, ia
berkata, Kami pernah dalam suatu perjalanan bersama Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, kami berjalan di waktu malam hingga ketika sampai di
akhir malam kami tidur, dan tidak ada tidur yang paling enak (nyenyak)
bagi musafir melebihi yang kami alami. Hingga tidak ada yang
membangunkan kami kecuali panas sinar matahari. Dan orang yang pertama
kali bangun adalah si fulan, lalu si fulan, lalu seseorang yang Abu ‘Auf
mengenalnya namun akhirnya lupa. Dan ‘Umar bin Al Khaththab adalah
orang keempat saat bangun, Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bila tidur tidak ada yang membangunkannya hingga beliau bangun sendiri,
karena kami tidak tahu apa yang terjadi pada beliau dalam tidurnya.
Ketika ‘Umar bangun dan melihat apa yang terjadi di tengah banyak orang
(yang kesiangan) -dan ‘Umar adalah seorang yang tegar penuh keshabaran-,
maka ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya dan terus saja bertakbir
dengan keras hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbangun akibat
kerasnya suara takbir ‘Umar. Tatkala beliau bangun, orang-orang
mengadukan peristiwa yang mereka alami. Maka beliau bersabda: Tidak
masalah, atau tidak apa dan lanjutkanlah perjalanan. Maka beliau
meneruskan perjalanan dan setelah beberapa jarak yang tidak jauh beliau
berhenti lalu meminta segayung air untuk wudlu, beliau lalu berwudlu
kemudian menyeru untuk shalat. Maka beliau shalat bersama orang banyak.”
(Shohih Bukhori, no.344)
3. Urutan qodho’ sholat.
Apabila sholat yang
ditinggalkan lebih dari satu, disunatkan untuk mengqodho’ sholat-sholat
tersebut berurutan, sesuai dengan waktunya. Kesunatan ini didasarkan
pada hadits:
عَنْ جَابِرِ بْنِ
عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ، جَاءَ يَوْمَ الخَنْدَقِ،
بَعْدَ مَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ، قَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كِدْتُ أُصَلِّي العَصْرَ، حَتَّى كَادَتِ
الشَّمْسُ تَغْرُبُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«وَاللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا» فَقُمْنَا إِلَى بُطْحَانَ، فَتَوَضَّأَ
لِلصَّلاَةِ وَتَوَضَّأْنَا لَهَا، فَصَلَّى العَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتِ
الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا المَغْرِبَ
“Dari Jabir bin Abdillah
rodhiyallohu’anhuma, bahwasannya Umar bin Khottob rodhiyallohu’anhu
datang pada hari peperangan Khondaq setelah matahari akan tenggelam,
lalu beliau mulai mencerca orang-orang kafir Quraisy (karena menyebabkan
para sahabat terlambat sholat ashar), beliau berkata: “Wahai
Rosulullah, aku belum melakukan sholat ashar padahal matahari hampir
tenggelam.” Nabi shollallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Aku pun belum
sholat ashar.” Maka kami bangkit menuju lembah buthhan, lalu Nabi
shollallohu’alaihi wa sallam berwudhu untuk sholat, kami pun ikut
berwudhu, lalu Rosulullah shollallohu’alaihi wa sallam melakukan sholat
ashar setelah matahari terbenam (di waktu maghrib), kemudian setelah itu
beliau sholat maghrib.” (Shohih Bukhori, no.596)
4. Tata cara sholat qodho’
Cara mengerjakan sholat
qodho’ itu sama saja dengan sholat ada’ (sholat yang dikerjakan pada
waktunya) dalam semua hal, mulai dari syarat sah sampai rukun-rukunnya.
Sedikit perbedaannya terletak pada niatnya, dalam sholat qodho’
disunatkan untuk mengganti kata “ada’an” dengan kata “qodho’an”. Namun,
hal ini tidak wajib, sebab dalam madzhab syafi’i tidak diwajibkan untuk
menyinggung ada’ atau qodho’ ketika niat, hanya saja penambahan kata
“qodho’an” dianjurkan untuk menghindari perselisihan seputar
diwajibkannya penambahan tersebut.
Sumber : http://g1ncra.blogspot.com/2014/01/shalat-jama-shalat-qasar-shalat-jama.html
Komentar
Posting Komentar